Posts

Showing posts from September, 2019

Rumpang

Malam ini kelabu Berbeda dengan malam malam sebelumnya Terasa pilu hingga membuat dada sangat sesak Dan membuatku sangat sulit bernapas Pikiranku melayang Pandanganku memburam Hanya ada suara kipas angin terdengar samar Di iringi dengan suara musik bervolume tinggi yang mencuat dari earphone yang terkulai di lantai Hari hariku hampa Entah harus bagaimana Melanjutkan hidup yang begini begini saja Atau berpasrah pada yang Maha Kuasa? Ragaku membeku Batinku meronta Jemariku terus bergerak menghubungi deretan nomor yang tertera di layar handphone Sial Lagi lagi tak di angkat Aku yang pengecut atau kamu? Bulir air mata mulai berjatuhan Sedikit demi sedikit namun pasti Dengan segera ku hapuskan air mata yang jatuh dengan menjijikan itu Terasa haram rasanya untuk ditangisi Rasanya malam ini aku ingin bermain Bermain dengan imajinasi yang kubuat sendiri Bermain dengan benda benda yang menjadi mainan favorit ku Aku hanya ingin tenang ...

Sepertiga Malam

Kamu.. Apa kabar? Aku ingin sedikit menulis tentangmu, yang entah akan kamu baca atau tidak Sudah dari lama aku ingin memberikan tulisan ini untukmu, tapi jangan khawatir karna aku tidak mengharapkan apapun dari tulisanku ini Kamu mau untuk membaca tulisan ini saja, itu sudah lebih dari cukup Tulisan ini menggambarkan keadaan diriku beberapa waktu lalu Aku mungkin hanya salah satu dari sekian banyak orang yang ada di dalam kehidupanmu Mungkin juga aku mengenalmu tidak lebih baik dari orang orang yang lebih dulu mengenalmu Tapi, aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang beruntung karna bisa masuk ke dalam kehidupanmu dan menjadi bagian dari dirimu Tiga tahun mengenalmu adalah tiga tahun paling indah, tiga tahun paling berwarna, tiga tahun paling penuh cerita-canda-tawa-air mata, tiga tahun paling penuh pertengkaran-kecewa-marah-tangis karna sikapmu Tiga tahun tanpa terasa, tak ada satupun yang bisa membeli semua rasa yang kupunya untukmu Kamu pasti...

Ekspektasi

pernah ada di titik dimana, dijadikan prioritas itu adalah hal yang sangat menyenangkan. pernah ada di titik dimana, menemani seseorang dari 0 yang sedang berjuang untuk menggapai cita cita adalah hal yang patut untuk di syukuri dan menjadi kebanggan tersendiri. pernah ada di titik dimana, yang awalnya tidak di hargai, namun sangat di perjuangkan pada akhirnya. namun, pernah juga ada di titik dimana, tidak di hargai pada awalnya, lalu di perjuangkan di tengah perjalanan, kemudian kembali tidak di hargai pada akhirnya. semua perjalanan seperti itu sudah pernah ku lalui. pahit, asam, asin, manis nya pun sudah pernah ku rasakan dan saya telan bulat bulat. mengenal seseorang dari 0, menemani kesana kemari demi menggapai cita, dan hal hal lainnya yang dapat di lalui untuk kebahagiaan bersama nantinya. nyatanya, ekspektasi tidak sesuai dengan realita. ekspektasi yang terlalu indah di bayangkan, membuat diri melayang sampai mabuk kepayang. di hantam sangat keras...

Beruang Betina

seperti belati menusuk perisai ada yang berhenti sebelum usai seperti mematahkan jeruji yang terpatri ada yang gemar berjanji —kembali mengingkari seperti sunyi malam tak berhias ada yang erat menggenggam lalu memaksa lepas seperti merah berubah candramawa ada yang patah bercampur kecewa seperti gelagah yang tak teguh ada yang memilih singgah daripada sungguh seperti senja yang tertutup mendung ada yang bermuram durja di balik senandung seperti petir yang berdentum menggetarkan jantung ada yang tersenyum walau hati meraung seperti bunga matahari di musim semi ada yang pergi —pantang kembali seperti putih kertas yang tergurat ada yang mencoba ikhlas walau sebenarnya berat seperti hamparan bintang yang membentang ada yang kembali mengenang dengan perasaan tenang

Perihal Mengikhlaskan

    aku pernah sebegitu dalam mencintai seseorang, sampai akhirnya aku lupa bagaimana caranya untuk berhenti. terlalu asik bermain dengan perasaan, hingga saatnya di kecewakan aku tak mampu mempertahankan.  ingin tahu rasanya seperti apa? —seperti ribuan tombak yang di tancapkan tepat di hati. ingin melepas, namun terasa sulit karna menancap terlalu dalam.      lantas,  siapa yang rela jika mengetahui sang kekasih bermain belakang? aku, lebih baik undur diri daripada harus berjuang lebih jauh. bagaimana mungkin aku memperjuangkan cinta sendiri, sedangkan yang di perjuangkan sedang terbuai dengan pemeran baru di hatinya? patah hati membawaku sampai di titik terlemah dalam hidupku. perasaan kesal, marah, kecewa, sedih; semua bercampur menjadi satu. bohong jika aku mengatakan bahwa semua baik baik saja dan aku tidak membencinya. —ya, aku sangat membencinya kala itu.  sulit rasanya mengikhlaskan. tapi mau tidak mau, suka tidak su...