Perihal Mengikhlaskan
aku pernah sebegitu dalam mencintai seseorang, sampai akhirnya aku lupa bagaimana caranya untuk berhenti.
terlalu asik bermain dengan perasaan, hingga saatnya di kecewakan aku tak mampu mempertahankan.
ingin tahu rasanya seperti apa?
—seperti ribuan tombak yang di tancapkan tepat di hati. ingin melepas, namun terasa sulit karna menancap terlalu dalam.
lantas, siapa yang rela jika mengetahui sang kekasih bermain belakang?
aku, lebih baik undur diri daripada harus berjuang lebih jauh.
bagaimana mungkin aku memperjuangkan cinta sendiri, sedangkan yang di perjuangkan sedang terbuai dengan pemeran baru di hatinya?
patah hati membawaku sampai di titik terlemah dalam hidupku.
perasaan kesal, marah, kecewa, sedih; semua bercampur menjadi satu.
bohong jika aku mengatakan bahwa semua baik baik saja dan aku tidak membencinya.
—ya, aku sangat membencinya kala itu. sulit rasanya mengikhlaskan. tapi mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilaksanakan.
sekarang, sudah waktunya.
waktu dimana aku harus mengikrarkan, bahwa aku sudah mengikhlaskan semuanya yang pernah terjadi antara aku, kamu, kita.
berbahagialah dengan hidupmu yang baru. sama hal nya dengan aku, yang juga akan berbahagia dengan hidupku.
semoga semesta selalu memberi kebahagiaan untuk hidup kita masing masing; saat ini dan sampai selamanya.
pesanku untuk kalian yang mencintai seseorang dengan teramat dalam; mulai sekarang, cintailah seseorang dengan secukupnya dan sewajarnya. sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. terlebih, perihal perasaan.
Comments
Post a Comment