Rumpang
Malam ini kelabu
Berbeda dengan malam malam sebelumnya
Terasa pilu hingga membuat dada sangat sesak
Dan membuatku sangat sulit bernapas
Pikiranku melayang
Pandanganku memburam
Hanya ada suara kipas angin terdengar samar
Di iringi dengan suara musik bervolume tinggi yang mencuat dari earphone yang terkulai di lantai
Hari hariku hampa
Entah harus bagaimana
Melanjutkan hidup yang begini begini saja
Atau berpasrah pada yang Maha Kuasa?
Ragaku membeku
Batinku meronta
Jemariku terus bergerak menghubungi deretan nomor yang tertera di layar handphone
Sial
Lagi lagi tak di angkat
Aku yang pengecut atau kamu?
Bulir air mata mulai berjatuhan
Sedikit demi sedikit namun pasti
Dengan segera ku hapuskan air mata yang jatuh dengan menjijikan itu
Terasa haram rasanya untuk ditangisi
Rasanya malam ini aku ingin bermain
Bermain dengan imajinasi yang kubuat sendiri
Bermain dengan benda benda yang menjadi mainan favorit ku
Aku hanya ingin tenang
Dengan semua hobby yang ku lakukan
Dimana letak kesalahanku, tuan?
Sikapku yang bagaimana yang telah menyakitimu?
Parasku memang tidak cantik
Fisik ku tidak seindah wanita lain diluar sana
Hidupku pun sangat sederhana dan tidak semewah wanita lain
Sangat jauh dari kata sempurna memang
Apa aku kurang membuatmu bahagia, tuan?
Tolong sebutkan apa saja kesalahanku itu
Supaya aku bisa berbenah diri
Supaya aku bisa berkaca pada cermin
Memulai bersama dari awal katamu
Saling memahami satu sama lain katamu
Saling menutupi kekurangan satu sama lain katamu
Harus saling terbuka dan jujur katamu
Tidak ada kebohongan yang dirahasiakan katamu
Lantas,
Dari kata kata yang kau ucap di atas
Di point nomor berapa aku mengingkari nya?
Di point nomor berapa aku tidak menepatinya?
Kau berhasil membuatku kembali hancur
Luka lama ku saja masih basah dan belum kering
Lalu kini kau membuat luka baru yang bahkan aku sendiri pun tidak tau akan butuh waktu berapa lama untuk menyembuhkannya?
Kau kelewat tega, tuan
Dimana otakmu?
Dimana perasaanmu?
Dimana akal sehatmu?
Masih menyatukah itu semua dengan ragamu?
Kau mempunyai ibu
Kau juga mempunyai adik perempuan
Tidak kah kau berpikir jika suatu saat ibu dan adik perempuanmu mengalami di posisi sepertiku saat ini?
Akankah kau membiarkan ibu dan adikmu terluka hati dan batinnya?
Semua ketulusanku kau abaikan
Semua kebaikanku kau anggap remeh
Kini ku tahu
Kau hanya memilih singgah daripada sungguh
Kau bagai jeruji yang terpatri
Aku,
Layaknya bunga matahari di musim semi
Karena aku,
Akan pergi dan pantang untuk kembali
Comments
Post a Comment