CERPEN CINTA KEPADA ORANG TUA

-Tugas Penunjang Mata Kuliah-


TERIMA KASIH AYAH

Halo teman-teman. Pada kesempatan kali ini, aku akan menceritakan beberapa pengalaman ku sama ayah ku ya! Tapi, kali ini aku bakalan ceritain 1 pengalaman yang bener-bener bikin aku keinget sama masa-masa SMA ku, hehe. Ya gapapa lah ya, sekalian nostalgia aja. Karena, masa-masa SMA itu adalah suatu masa yang paling berharga dan berkesan selama kita duduk di bangku sekolah.
Aku itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Aku punya kakak laki-laki yang jarak usia nya beda 4 tahun di atas ku. Namanya Rezky. Kalo kata temen-temen ku yang cewe sih dia ganteng haha. Aku juga punya adik perempuan yang jarak umurnya lumayan jauh sama aku yaitu 9 tahun di bawah umurku. Namanya Trisya. Orang orang bilang, muka dia perawakan nya kayak bule banget.
 Posisi aku disini tuh jadi anak tengah. Tapi, serius deh, aku ngerasa kayak gaenak banget jadi anak tengah. Kayak dapet perlakuan yang beda aja gitu dari orang tua ku. Tapi itu menurutku lho ya. Dulu, pas adik ku belum di kandung dan belum di lahirkan dari rahim mama, aku bener-bener di manja sama orang tuaku termasuk sama ayahku. Aku minta apa pun pasti selalu diturutin sama ayah ku. Seiring waktu berjalan, disaat adik ku udah lahir, semua perhatian dari orang tua ku langsung tertuju sama adik ku. 
Dulu, waktu Trisya masih ada di perut mama dan belum keliatan jenis kelaminnya, aku sempat bikin kesepakatan sama Rezky. Aku bilang ke mama "Ma, kalau adeknya nanti perempuan, aku bakalan bantuin mama. Aku yang mandiin, aku yang gantiin pempers, aku yang ngajak main dan lain lain" Tapi, Rezky juga gamau kalah. Dia juga bilang ke mama "Ma, kalau adeknya laki laki, mama tenang aja, nanti aku yang bakal ngurusin adek. Aku ajak main bola setiap sore. Aku sayang banget pokoknya" Nyatanya sih sekarang... Ya gitu deh bisa di tebak sendiri lah ya hahaha. 
Lambat laun, aku makin ngerasa jauh sama ayah. Hmm, mungkin karena aku nya juga yang udah mulai beranjak dewasa, jadi aku mulai ngerti kenapa makin kesini aku makin jauh sama beliau. Toh, aku emang orang nya juga jutek dan cuek banget sama lingkungan sekitar. Jangan kan untuk bercerita panjang lebar tentang kegiatan dan aktivitas ku selama di sekolah, untuk bertegur sapa di rumah pun sangat jarang.
Saat aku duduk di bangku SMA, aku semakin paham dan semakin mengerti apa yang membuat aku merasa jauh dengan ayah ku, tidak seperti hubungan anak dengan ayah seperti di luar sana. Aku merasa semakin terbiasa dengan hal seperti ini. Bahkan, disaat ayah ku mengantarkan ku ke sekolah pun, selama di perjalanan kami sama sekali tidak berbincang. Sangat amat jarang ada kalimat yang terucap dari mulut kami, walaupun sesekali kami sempat berbincang walau hanya sebatas menanyakan bahwa aku sudah sarapan atau belum. Selebihnya, aku lebih senang untuk memasang earphone di telinga dan mendengarkan lagu dengan volume full. Karena, kalau dengerin musik di pagi hari itu, bisa bikin mood kita jauh lebih baik hehe.
Masa putih abu-abu ku dimulai sekitar pertengahan tahun 2015. Aku mendapatkan banyak teman baru di SMA ku. Ya, aku bersekolah di SMA Mardi Yuana Depok, yang merupakan sekolah almamater mama ku saat menduduki bangku SMA dulu. Aku bertemu dengan teman-teman baru  yang sangat asik dan baik. Di hari pertama aku menginjakkan kaki di SMA itu waktu hari pertama untuk pengarahan MOS. Untung aku 1 SMA lagi sama Elna. Jadi, aku ga perlu ngerasa takut takut banget buat masuk sekolah hari itu. Fyi, aku udah temenan sama Elna itu dari TK. Mamanya Elna dan Mamaku juga berteman baik. Lalu, kami berdua bertemu dengan wanita yang sangat easy going kala itu. Namanya Laras! Baru pertama kali kenal aja cerewet dan tingkah nya udah ga bisa diem hahaha. Tidak hanya berteman dengan teman wanita, namun, aku juga mendapatkan banyak teman lelaki yang sangat baik kepada ku, Elna, dan juga Laras.
Seiring berjalannya waktu, pertemanan kami semakin akrab dan semakin dekat. Kemana-mana kami selalu pergi bersama. Setiap pulang sekolah, disaat murid murid yang lain lebih memilih untuk langsung pulang atau bahkan menghabiskan waktunya sampai sore di dalam sekolah, kami lebih memilih untuk nongkrong di parkiran sampai larut sore. Asik banget ga sih nongkrongnya di parkiran? Hahaha. Pertemanan kami diberi nama “BAON”. Sebetulnya kami pun tidak mengetahui secara jelas apa maksud dan arti dari nama tersebut. Namun salah satu temanku menjelaskan bahwa nama “BAON” itu merupakan nama sebuah geng yang sangat terikat dengan tali kekeluargaan yang sangat erat. Ternyata benar. Aku pun merasakan kehangatan rasa persaudaraan dan rasa kekeluargaan yang cukup kuat di dalam forum pertemanan ini. “BAON” tidak hanya terdiri dari laki-laki, tetapi ada juga perempuan nya, salah satunya adalah aku dan ke 3 teman wanita ku yang lain. Kami merasa nyaman dengan pertemanan kami. Kami merasa aman dan terlindungi karena teman-teman pria kami selalu menjaga kami dimana pun kami berada. Jujur, aku pribadi juga ngerasa aman dan nyaman banget karna di protect kayak gitu. Apalagi di protect nya sama pacar sendiri yang 1 geng, 1 perkumpulan, 1 tongkrongan, dan bisa di bilang sih, dia yang paling di takutin di "BAON" hehe jadi flashback kan tuh...
Beberapa bulan masa SMA kami berjalan, kami sepakat untuk melakukan liburan ke luar kota, yaitu ke Yogyakarta. Kami berkumpul di suatu tempat untuk membicarakan mengenai liburan kami yang akan dilakukan pada saat libur Ujian Nasional kelas 12. Ini adalah pengalaman ku pertama kali untuk pergi berlibur ke luar kota bersama teman-teman ku. Aku sangat ragu disaat perbincangan ini dilakukan. Bahkan, aku benar-benar merasa takut jikalau tidak mendapatkan izin dari kedua orang tua ku termasuk ayah ku. Karena ayah ku adalah tipikal ayah yang sangat disiplin, tegas, dan galak. Makluuum, soalnya beliau TNI hehehe. Ga heran makanya kalo sering bikin dagdigdug. Tapi di balik sikap menyeramkan nya itu, sebenernya beliau orang yang sangat baik koook.
Saat semua teman-teman ku meminta kepastian dariku, aku hanya diam. Aku bingung harus menjawab apa. Kemudian salah satu temanku yang bernama Laras menanyakan hal yang sama kepadaku dengan nada pelan. Kemudian aku menceritakan keraguan ku apabila aku izin kepada orang tuaku.
Setiba nya di rumah, aku mencoba untuk memberanikan diri untuk meminta izin kepada mamaku terlebih dahulu. Aku menjelaskan tentang transportasi yang akan kami gunakan, tempat penginapan dan berapa lama kami akan berlibur. Mama ku menyetujuinya. Ia mengizinkan ku dengan syarat bahwa aku juga harus mendapat izin dari ayahku. Ketakutanku sangat luar biasa. Aku harus mempersiapkan mental terlebih dahulu apabila nantinya aku akan di caci maki oleh ayah ku yang galak itu.
Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menceritakan kepada ayahku. Dan ternyata benar. Ayahku hanya diam dan tidak merespon. Kemudian saat disekolah, aku menceritakan kepada Laras tentang reaksi ayahku itu. Kemudian aku dan beberapa teman wanitaku berunding memikirkan bagaimana caranya agar aku mendapat izin untuk pergi berlibur bersama teman-temanku. Laras mendapatkan ide. Akhirnya pada saat jam istirahat ke 2, Laras menelepon ayahku kemudian menjelaskan kembali tentang rencana liburan kami. Aku sangat ragu dan aku sangat pasrah jika tetap tidak di izinkan oleh ayahku. Saat Laras sedang menelepon ayahku, tidak lama kemudian..... Laras berteriak kegirangan. Laras berkata bahwa aku di izinkan untuk pergi berlibur bersama teman-teman ku ke Jogja. Betapa senangnya hatiku saat itu. Tidak hanya aku, teman-temanku  pun ikut kegirangan. Sangat-sangat bahagia. Saking bahagia nya, kami sampai loncat loncatan sambil berpegangan tangan, sampai tidak sadar, bahwa jam tangan Laras terlepas dan jatuh ke lantai akibat tertarik oleh tanganku. Hehe maafin ya Ras.
Menjelang hari H, aku mempersiapkan segala keperluan yang harus dibawa saat ke Jogja nantinya. Aku dibantu oleh mama ku untuk mengurus pakaian, sedangkan ayahku membantu untuk mengurus keperluan uang, barang, dan jajanan lainnya. Hingga hari H tiba, kami mendapatkan jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Pasar Senen pada pukul 23.30 WIB. Ayahku sangat khawatir jika aku pergi ke Stasiun Pasar Senen sendirian dengan kondisi aku membawa banyak tas dan itu sudah malam. Aku ingin berangkat dengan teman-teman ku naik commuter line, namun tidak di izinkan oleh orang tua ku. Mereka khawatir kalau terjadi sesuatu dengan ku nantinya. Hingga akhirnya, ayah ku pun memutuskan untuk mengantar ku sampai Stasiun Pasar Senen. Ayah ku sangat sigap untuk mengantarku. Akhirnya aku berpamitan dengan mama ku.
Aku merasa sedih karena harus berpisah dengan mama ku untuk beberapa hari kedepan. Lalu ayah ku segera mengantarkan ku menggunakan motor. Jarak dari rumah ku menuju Stasiun Pasar Senen lumayan jauh. Membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk tiba disana. Aku dan ayah ku berangkat dari rumah pada pukul setengah 7 menjelang jam 7 malam. Perjalanan kami cukup tersendat karena kondisi jalan raya yang sangat ramai dan macet karena hari itu adalah malam Minggu. Aku dan ayah ku pun sempat tersesat dan memutuskan untuk balik arah. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 1 jam, akhirnya aku dan ayah ku tiba di Stasiun Pasar Senen. Namun, teman-temanku yang lain belum kelihatan. Ayahku menemaniku sampai aku bertemu dengan teman-temanku. Dengan kondisi sudah larut malam, ayahku tetap setia menemaniku. Ia membelikanku makanan tambahan untuk di kereta dan juga ia memberikan uang saku tambahan untuk persediaan ku disana.
Tidak lama kemudian, teman-temanku datang. Akhirnya aku berpamitan dengan ayahku. Aku sangat sedih karena melihat wajah ayahku yang juga terlihat sedih. Ia terlihat seperti tidak rela untuk berpisah dengan ku walau hanya beberapa hari saja. Bahkan ayah ku sampai menitipkan pesan kepada teman-temanku, “Tolong jagain Gita ya selama disana. Kalian harus tetap hati-hati. Kabarin Bapak ya Nak kalo udah sampai Jogja. Nanti kalau udah sampe di dalem kereta, jangan lupa sms Mama.” Mendengar perkataan ayahku, mataku berkaca-kaca. Selama ini aku berpikir bahwa ayah ku tidak peduli dengan ku dan ia hanya mempedulikan adikku saja. Ternyata, ia juga sangat menyayangiku.
Bahkan sampai aku dan teman-teman ku check-in tiket pun, ayahku masih memantau kami. Hingga akhirnya kami menuju kereta yang akan kami taiki, ayahku baru pergi meninggalkan stasiun itu dan bergegas pulang.

Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk ayah. Walaupun beliau terlihat sangat galak dan sangat cuek kepadaku, dari lubuk hati terdalam, aku sangat menyayangi beliau. Aku selalu sayang ayah, untuk sekarang  dan selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Mengikhlaskan

Beruang Betina

Rumpang